Masa lalu memang pantas disebut sebagai hal yang paling jauh karena kita
tidak akan pernah bisa kembali ke masa itu walaupun hanya sedetik saja.
Bila kita renungkan, betapa berharganya waktu yang kita miliki. Kadang
karena banyaknya pekerjaan yang belum selesai, kita sering
berandai-andai kalau saja sehari itu bisa 48 jam. Mungkinkah?
Sebenarnya, bisa saja kita membuat sehari menjadi 48 jam, asalkan satu
jamnya sama dengan 30 menit. Kalau memang begitu, mengapa sehari semalam
harus dihitung sebagai 2 x 12 jam? Seperti yang kita lihat di jam
tangan atau pun jam dinding analog, yang tertera selalu 12 angka, 1
sampai 12. Padahal, bisa saja kita anggap sehari semalam adalah 20 jam
sehingga satu jam menjadi 72 menit.
Lalu, dari mana sistem 12 angka ini berasal?
Sistem bilangan yang paling banyak digunakan manusia pada saat ini
adalah sistem desimal, yaitu sistem penghitungan berbasis 10. Namun
untuk mengukur waktu, kita menggunakan sistem duodesimal (basis 12) dan
sexadesimal (basis 60). Hal ini disebabkan karena metode membagi hari
diturunkan dari sistem bilangan yang telah digunakan oleh peradaban kuno
Mediterania. Sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno menggunakan
sistem bilangan berbasis 12. Mereka mengembangkan sebuah sistem jam
matahari yang membagi waktu antara matahari terbit sampai tenggelam ke
dalam 12 bagian
ara ahli sejarah berpendapat, orang-orang Mesir kuno menggunakan
sistem bilangan berbasis 12 karena mengikuti jumlah siklus bulan dalam
satu tahun, atau berdasarkan jumlah sendi jari manusia (3 di tiap jari,
tidak termasuk jempol) yang memungkinkan mereka berhitung hingga 12
menggunakan jempol.
Sistem waktu musiman
Jam matahari generasi berikutnya sudah mulai merepresentasikan apa
yang sekarang kita sebut dengan “jam”. Sedangkan pembagian malam menjadi
12 bagian, didasarkan pada pengamatan para ahli astronomi Mesir kuno
yang menemukan 12 bintang “penanda” pada malam hari. Dengan membagi satu
hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka secara tidak
langsung konsep 24 jam diperkenalkan.
Namun masalahnya, panjang hari dan malam belum sama karena berbagai
faktor seperti, saat musim panas siang hari akan lebih panjang
dibandingkan malam hari). Oleh karena itu, pembagian jam dalam satu hari
pun berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Sistem waktu ini disebut
dengan sistem waktu musiman.
Sistem geografis latitude
Eratosthenes (276-194 SM), seorang ahli astronomi Yunani lainnya
membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membuat sistem
geografis latitude. Teknik ini berdasarkan sistem berbasis 60 yang
digunakan oleh orang-orang Babilonia, yang sebelumnya telah lebih dulu
digunakan oleh peradaban Sumeria sekitar tahun 2000 SM. Sistem ini
dipilih karena angka 60 merupakan angka terkecil yang dapat dibagi oleh
10, 12, 15, 20 dan 30.
Sistem longitude 360 derajat

Satu abad kemudian, Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360
derajat. Dan pada sekitar 130 M, Claudius Ptolemy membagi tiap derajat
menjadi 60 bagian. Bagian pertama disebut dengan partes minutae primae yang berarti menit pertama, bagian yang kedua disebut partes minutae secundae
atau menit kedua, dan seterusnya. Meskipun ada 60 bagian, yang
digunakan hanyalah 2 bagian pertama, menit, dan detik. Sedangkan 58
bagian yang lain membentuk satuan waktu yang lebih kecil dari detik.
Namun, sistem ini baru diterima secara luas setelah di Eropa ditemukan
jam mekanik pada abad ke-14. Bahkan, jam penunjuk waktu pertama yang
menampilkan menit dibuat pertama kali dua abad kemudian.